Kompleks Kampus STPMD "APMD" Yogyakarta, 23 - 25 Februari 2012
  • 5 "Ande-Ande Lumut"
    Syahdan, di tengah hutan, Pangeran Kusumayuda dari Banyuarum bertemu dengan Klenting Kuning. Tanpa berkenalan mereka saling mengingat. Pangeran Kusumayuda membatin, gadis itu merupakan calon permaisuri Kerajaan Banyuarum yang paling pas. Sayang, mereka tak pernah bersua lagi.
  • 5 Ketika TIK Merambah Desa-desa
    Ini ruang jagongan untuk berbagi cerita kampung-kampung yang sukses mendapat penghargaan tingkat Internasional. Mereka berada di lokasi yang sangat pelosok sehingga sulit diakses dari dunia luar (baca: kota). Tak ada infrastruktur informasi dan komunikasi di daerah mereka. Namun, mereka memilih mengelola website desa untuk menyebarkan informasi di daerahnya pada dunia.
  • 5 Ngintip Proses Pengarsipan Indonesian Visual Art Archive (IVAA)
    Sejak 1995, IVAA (mulanya bernama Yayasan Seni Cemeti-YSC) fokus pada usaha pemberdayaan infrastruktur seni rupa. Mereka bekerja untuk menjadi pusat data, riset, dan dokumentasi seni rupa Indonesia, dan juga sebagai lembaga manajemen dan pengembangan infrastruktur seni rupa.
  • 5 Bangun Desa dengan Data
    Sebenarnya, berbagai indikator dasar dan penentu definisi kemiskinan dengan mudah dapat diketahui tanpa survei sosial dan tabel-tabel statistik. Seorang disebut miskin jika ia tidak mampu makan dua kali sehari (2100 kalori/hari), tidak memiliki akses terhadap sandang dan papan, serta tidak mampu mengupayakan layanan kesehatan bagi keluarga mereka.
  • 5 Jogja Go Open Source
    Berbagi pengalaman Pemkot Jogjakarta dan Komunitas Open Source memanfaatkan open source di dunia pemerintahan. Pemkot Jogjakarta telah memanfaatkan open source di Puskesmas untuk pelayanan publik.
Berita,
  Selasa, 14 Februari 2012 | 09:09 WIB


Desa Terong: Sistem Informasi Desa Tingkatkan Pelayanan Publik

Semua masyarakat ingin mendapatkan pelayanan yang cepat, benar, dan akurat. Jika saya memiliki sistem informasi desa yang benar, maka akan sangat mudah mengetahui file dari warga saya. Maka ketika warga datang untuk mencari surat-surat, tak perlu menanyakan KTPnya mana. Atau jika mereka ingin melakukan perubahan atas tanah, tidak perlu meminta akte tanah. Ini akan bisa mengeliminir/meminimalisir konflik.” (Sudirman Alfian, Kepala Desa Terong, Dlingo, Bantul, DIY)

Sudirman Alfian, Kepala Desa Terong MengudaraDesa Terong, Dlingo, terletak di kawasan perbukitan, 325-350 meter permukaan laut. Siapa yang sangka bahwa desa terpencil yang berjarak 25 km dari kota Bantul ini telah memiliki sistem data berbasis digital yang komprehensif. Lebih dari sekadar data statis, Sistem Informasi Desa dirancang dinamis untuk mendukung pelayanan publik pemerintah desa terhadap warganya. Kepekaan atas tuntutan warga untuk memperoleh pelayanan publik telah ditanggapi serius oleh pemerintah desa. Sejak tahun 2009, Pemerintah Desa Terong telah merintis kerjasama dengan COMBINE Resource Institution untuk membangun sebuah Sistem Informasi Desa yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat desa serta mempercepat pelayanan publik. Setelah berjalan selama 3 tahun, kini warga desa sudah bisa merasakan manfaatnya.

"Saya beberapa waktu lalu mengurus KTP anak dan istri saya, memang sekarang pelayanannya lebih cepat, hanya 2 menit sudah selesai, kalau dulu sekitar 15 menit. Yang lama justru di kecamatan, butuh waktu 45 menit, itu pun kalau tidak antri”
(Ribut, Kepala Dusun Terong I)

“Saya menunggu sekitar 5 menit untuk mengurus KTP di kelurahan, sedang di kecamatan saya menunggu sampai 2 jam karena antri”
(Nisa, Penduduk Desa Terong)

Kesaksian dua warga desa di atas juga diperkuat oleh Bapak Joko, S, selaku petugas dari Pemerintah Desa yang memberikan layanan. Sebelumnya, warga harus menunggu paling cepat 15 menit hingga surat selesai dikerjakan oleh petugas, namun sekarang warga cukup beberapa menit dan surat yang dibutuhkan pun selesai. Hal ini bisa terjadi karena Sistem Informasi Desa memungkinkan petugas Pemerintahan Desa untuk memperbaharui data dan langsung mencetak data terbaru jika diperlukan oleh warga. Di samping dapat meningkatkan pelayanan publik, warga pun dapat mengakses data secara langsung di kantor kepala desa.

Di ruang tamu Kantor Balai Desa, diletakkan sebuah komputer yang dapat diakses warga untuk memperoleh data penduduk dan potensi desa. Beberapa cara dilakukan untuk membuat warga tertarik mengakses informasi, misalnya rancangan Sistem Informasi Desa di Terong juga menyertakan primbon. Secara interaktif, warga bisa menuliskan tanggal lahirnya dan langsung data primbon akan membaca karakter seseorang. Ternyata informasi primbon ini cukup menarik warga untuk datang ke Kantor Desa. Hal ini juga membuka peluang terjadinya dialog dengan warga sehingga pemerintah desa juga mengetahui aspirasi warganya. Upaya desa untuk memperkenalkan Sistem Informasi Desa kepada warga sangat serius. Pada tanggal 13 Februari 2012, Desa Terong menggelar gelaran budaya, pameran potensi Desa Terong, dan Lokakarya Sistem INformasi Desa se-Kabupaten Bantul. Dalam acara yang diberi nama “Geger Terong,” masyarakat desa terlibat aktif serta menyadari betapa berharganya potensi desa mereka yang kini juga sudah terkelola dalam sebuah basis data yang interaktif. Saatnya desa bergerak, menjadi teladan nyata bagaimana menjadi abdi masyarakat dengan transparan dan demokratis.
 


  • dibaca 2684x

Pendukung

  • UII Net PT Global Prima Utama
  • Pengelola Domain .ID

Media Partner

Media Partner: Kedaulatan Rakyat
Media Partner: Koran Tempo

Penyelenggara