Kompleks Kampus STPMD "APMD" Yogyakarta, 23 - 25 Februari 2012
  • 5 Cipta Media Bersama
    Pada 7 November lalu, 20 ide besar dari dua puluh kelompok diumumkan sebagai penerima hibah Cipta Media Bersama. Program hibah terbuka ini menyokong dana sebesar 1 juta dollar AS bagi mereka untuk melaksanakan proyek yang merangsang gerakan publik dalam empat bidang: meretas batas-kebhiknekaan bermedia, keadilan dan kesetaraan akses terhadap media, kebebasan dan etika bermedia, dan pemantauan media.
  • 5 Bangun Desa dengan Data
    Sebenarnya, berbagai indikator dasar dan penentu definisi kemiskinan dengan mudah dapat diketahui tanpa survei sosial dan tabel-tabel statistik. Seorang disebut miskin jika ia tidak mampu makan dua kali sehari (2100 kalori/hari), tidak memiliki akses terhadap sandang dan papan, serta tidak mampu mengupayakan layanan kesehatan bagi keluarga mereka.
  • 5 Ketika TIK Merambah Desa-desa
    Ini ruang jagongan untuk berbagi cerita kampung-kampung yang sukses mendapat penghargaan tingkat Internasional. Mereka berada di lokasi yang sangat pelosok sehingga sulit diakses dari dunia luar (baca: kota). Tak ada infrastruktur informasi dan komunikasi di daerah mereka. Namun, mereka memilih mengelola website desa untuk menyebarkan informasi di daerahnya pada dunia.
  • 5 Pengarusutamaan Jender pada Media Komunitas
    Workshop ini membedah stategi pengarusutamaan gender di media komunitas, baik dalam struktur kelembagaan, isi siaran, maupun pengemasan materi siaran. Kegiatan ini penting diikuti bagi para pegiat media komunitas yang memiliki perhatian pada keadilan, termasuk keadilan jender.
  • 5 Online Media Research: Konten Laris Manis, Bagaimana?
    Membuat konten di media online ataupun media sosial tidaklah sulit. Tetapi tidak semua konten akan dapat menarik minat pembaca/pengakses. Perlu ada pemahaman tentang apa yang dibutuhkan dan/atau diminati pembaca dan bagaimana memenuhinya.
Berita,
  Sabtu, 25 Februari 2012 | 17:55 WIB
oleh: Prima SW


Ramai-ramai Mencukil Kayu

Pembicara itu duduk tenang. Suaranya tak koar-koar, bicaranya halus. Beberap saat kemudian ia bicara sambil mengacung-acungkan sejenis pisau. Namun dia tak sedang mengancam. Orang itu adalah Windu, pembicara di demo “Cukil Kayu” dari komunitas Taring Padi, di hall STPMD "APMD" (25/2).

Cukil kayu adalah seni menggambar di permukaan kayu. Alat cukil kayu dijadikan sebagai "kuas". Bentuknya seperti pena, ujungnya logam berbentuk "U” atau “V” dengan lebar berbeda-beda. Windu memamerkan karya Cukil Kayu Taring Padi. Memang bagus-bagus. Makanya, setelah ia selesai bicara dan menyilakan peserta untuk praktik langsung, semua antusias.

Masing-masing memegang papan berukuran kira-kira 50 x 25 cm. Papan tersebut permukaannya hitam. Di atas papan, sketsa dibuat dengan pensil. Setelah selesai, dengan alat cukil, garis-garis gambar tersebut dicukil sampai membentuk gambar. Kalaupun ada sketsa yang salah, gambar masih bisa dikoreksi dengan penghapus.

Dua puluh menit setelah itu, sudah ada peserta yang rampung mencukil. Papan sudah siap dicetak Yunan, orang dari Taring Padi juga. Cat cetak offset dicurah ke atas papan kaca. Di atasnya, roller digerakkan di atas tinta sampai menempel. Roller lalu dipoles di atas papan cukil. Setelah cukup, papan baru ditempelkan di atas kertas poster atau pun kain, dibalik, dialasi koran di atasnya, lalu diinjak-injak. Kaki terus menekan sampai cat rasa-rasanya sudah menempel sempurna di kain atau kertas.

Salah satu peserta, Sareh, berasal dari Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Sebelumnya ia pernah melihat demo cukil kayu saat Taring Padi melakukan aksi di Porong, memeringati lima tahun Porong. Baru kali ini ia berkesempatan mencoba langsung. “Buat pengalaman. Sebelumnya aku juga nggak pernah mengambar,” ia berkata begitu sambil tertawa.


  • dibaca 4151x

Pendukung

  • UII Net PT Global Prima Utama
  • Pengelola Domain .ID

Media Partner

Media Partner: Kedaulatan Rakyat
Media Partner: Koran Tempo

Penyelenggara