Kompleks Kampus STPMD "APMD" Yogyakarta, 23 - 25 Februari 2012
  • 5 Membaca Tanda Alam lewat Burung
    Clive Walker, seorang petualang Inggris yang menghabiskan sebagian hidupnya di Bostwana, Afrika, dan berdekatan dengan hewan-hewan liar, percaya kalau mereka punya rasa yang amat tajam. Ia mengatakan, "Wildlife seem to be able to pick up certain phenomenon, especially birds ... there are many reports of birds detecting impending disasters (Satwa liar tampaknya mampu mengambil fenomena tertentu, terutama burung... ada banyak laporan yang mengatakan kalau burung mampu mendeteksi bencana yang akan datang)."
  • 5 E-Becak & Blontea: Meraup Rejeki Nyata Lewat Dunia Maya
    Harry adalah tukang becak. Tapi Harry juga pengguna sosial media aktif macam Facebook dan Twitter. Oleh karena kegemarannya dengan online, ia berhasil menjaring pelanggan tetap terutama Belanda, bila mereka sedang berkunjung ke Jogja.
  • 5 Wikisaster Management: Pengalaman JALIN Merapi Mengelola Informasi Bencana
    Apa jadinya kalau bencana dikelola? Tentu saja akan memperkecil kerugian. Dengan mengelola bencana (alam atau buatan manusia), kerusakan fisik bisa ditekan. Kehilangan nyawa mampu diperkecil jumlahnya. Dan proses pemulihan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
  • 5 OpenBTS: Seperti Apa Benih Telekomunikasi Swadaya?
    OpenBTS adalah sebuah teknologi yang memungkinkan komunitas untuk mengembangkan penelitian hingga penyediaan sarana telekomunikasi GSM secara mandiri. OpenBTS dapat dirakit sendiri dan dioperasikan menggunakan teknologi open source. Apakah mau selamanya dijajah vendor? Tapi bagaimana mengoperasikannya? Ikutilah lokakarya ini.
  • 5 Online Media Research: Konten Laris Manis, Bagaimana?
    Membuat konten di media online ataupun media sosial tidaklah sulit. Tetapi tidak semua konten akan dapat menarik minat pembaca/pengakses. Perlu ada pemahaman tentang apa yang dibutuhkan dan/atau diminati pembaca dan bagaimana memenuhinya.
Berita,
  Sabtu, 25 Februari 2012 | 14:41 WIB
oleh: Prima SW


Open Source Sejak dari Desa

  

Pengalaman menarik dibawa pada lokakarya “Jogja Go Open Source”, Sabtu (25/2). Berasal dari Desa Melung, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Banyumas, menurut Soim, desa ini letaknya terpelosok. Untuk mencapai ibukota kabupaten, Kota Purwokerto, kira-kira butuh satu jam perjalanan.

Sebelumnya, komputer pengelola data di kantor desa menggunakan operating system (OS) Windows yang berbayar. Meskipun akrab dipakai, namun OS jenis ini rentan tekena virus komputer. Akibatnya, komputer butuh perawatan yang lebih sering.

Padahal, untuk instalasi ulang komputer misalnya, komputer di Desa Melung perlu dibawa ke Kota Purwokerto. Jarak yang jauh ternyata cukup merepotkan. Selain itu, biayanya mahal. “Untuk perawatan (komputer), sekali perawatan sampai menghabiskan uang dua sampai dua setengah juta rupiah,” kisah Soim.

Akhr tahun 2011, Desa Melung kedatangan perwakilan dari Combine Research Institute (CRI), Yossy Suparyo, dan dari BlankOn Banyumas. Mereka mensosialisasikan penggunaan open source alias operating system legal yang gratis. “Kami tertarik menggunakan itu,” tutur Soim. Sejak saat itu, kantor Desa Melung menggunakan OS Linux.

Desa Melung adalah contoh desa yang telah berhasil merintis pemakaian sistem operasi legal berbasis open source. “Kalau biasanya perubahan dituntut dari pusat dulu baru ke daerah, ini sebaliknya. Dari desa dulu. Ini mempermalukan pemerintah daerah,” seloroh moderator yang disambut tawa oleh hadirin.

Selain Desa Melung, kesuksesan serupa juga terjadi di Desa Mandala Mekar, Kabupaten Tasikmalaya. Desa mana lagi yang mau menyusul?


  • dibaca 1354x

Pendukung

  • UII Net PT Global Prima Utama
  • Pengelola Domain .ID

Media Partner

Media Partner: Kedaulatan Rakyat
Media Partner: Koran Tempo

Penyelenggara