Kompleks Kampus STPMD "APMD" Yogyakarta, 23 - 25 Februari 2012
  • 5 Cipta Media Bersama
    Pada 7 November lalu, 20 ide besar dari dua puluh kelompok diumumkan sebagai penerima hibah Cipta Media Bersama. Program hibah terbuka ini menyokong dana sebesar 1 juta dollar AS bagi mereka untuk melaksanakan proyek yang merangsang gerakan publik dalam empat bidang: meretas batas-kebhiknekaan bermedia, keadilan dan kesetaraan akses terhadap media, kebebasan dan etika bermedia, dan pemantauan media.
  • 5 Katakan dengan Fotomu
    Foto yang kuat tentu dihasilkan dari kamera yang hebat. Dengan harga jutaan rupiah yang mampu mengambil banyak warna dan objek secara tajam baik dari jarak jauh mupun dekat. Tetapi bagi seorang blogger semacam Pamantyo, anggapan tersebut tidak berlaku.
  • 5 Ketika TIK Merambah Desa-desa
    Ini ruang jagongan untuk berbagi cerita kampung-kampung yang sukses mendapat penghargaan tingkat Internasional. Mereka berada di lokasi yang sangat pelosok sehingga sulit diakses dari dunia luar (baca: kota). Tak ada infrastruktur informasi dan komunikasi di daerah mereka. Namun, mereka memilih mengelola website desa untuk menyebarkan informasi di daerahnya pada dunia.
  • 5 Jurnalisme Kebencanaan
    Pewarta maupun awak media meanstream di Indonesia adalah pekerja yang tidak dibentuk atau disiapkan sebagai pewarta di wilayah bencana sehingga yang terjadi adalah atas proses yang tidak direncanakan dan kebanyakan adalah Shock reporting, tidak adanya panduan pewartaan yang telah di konvergensi dengan isu-isu kebencanaan.
  • 5 Mengembangkan Aplikasi Android
    Aplikasi Android yang dikelola Google -teknologi berbasis open source- saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dengan jumlah pengguna yang kian besar, aplikasi Android memiliki prospek yang menjanjikan bagi pengembang. Selain itu, dengan makin banyaknya pengembang lokal, maka konten lokal yang berasal dari Indonesia -bahkan daerah- akan makin berkembang dan dikenal di dunia. Lalu bagaimana mengembangkan aplikasi ini? Lokakarya ini akan mengupasnya.
Berita,
  Sabtu, 25 Februari 2012 | 14:41 WIB
oleh: Prima SW


Open Source Sejak dari Desa

  

Pengalaman menarik dibawa pada lokakarya “Jogja Go Open Source”, Sabtu (25/2). Berasal dari Desa Melung, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Banyumas, menurut Soim, desa ini letaknya terpelosok. Untuk mencapai ibukota kabupaten, Kota Purwokerto, kira-kira butuh satu jam perjalanan.

Sebelumnya, komputer pengelola data di kantor desa menggunakan operating system (OS) Windows yang berbayar. Meskipun akrab dipakai, namun OS jenis ini rentan tekena virus komputer. Akibatnya, komputer butuh perawatan yang lebih sering.

Padahal, untuk instalasi ulang komputer misalnya, komputer di Desa Melung perlu dibawa ke Kota Purwokerto. Jarak yang jauh ternyata cukup merepotkan. Selain itu, biayanya mahal. “Untuk perawatan (komputer), sekali perawatan sampai menghabiskan uang dua sampai dua setengah juta rupiah,” kisah Soim.

Akhr tahun 2011, Desa Melung kedatangan perwakilan dari Combine Research Institute (CRI), Yossy Suparyo, dan dari BlankOn Banyumas. Mereka mensosialisasikan penggunaan open source alias operating system legal yang gratis. “Kami tertarik menggunakan itu,” tutur Soim. Sejak saat itu, kantor Desa Melung menggunakan OS Linux.

Desa Melung adalah contoh desa yang telah berhasil merintis pemakaian sistem operasi legal berbasis open source. “Kalau biasanya perubahan dituntut dari pusat dulu baru ke daerah, ini sebaliknya. Dari desa dulu. Ini mempermalukan pemerintah daerah,” seloroh moderator yang disambut tawa oleh hadirin.

Selain Desa Melung, kesuksesan serupa juga terjadi di Desa Mandala Mekar, Kabupaten Tasikmalaya. Desa mana lagi yang mau menyusul?


  • dibaca 1220x

Pendukung

  • UII Net PT Global Prima Utama
  • Pengelola Domain .ID

Media Partner

Media Partner: Kedaulatan Rakyat
Media Partner: Koran Tempo

Penyelenggara