Kompleks Kampus STPMD "APMD" Yogyakarta, 23 - 25 Februari 2012
  • 5 Jurnalisme Kebencanaan II
    Lanjutan dari lokakarya "Jurnalisme Kebencanaan". Pada hari kedua ini lokakarya akan memusatkan perhatian pada bagaimana sebuah peliputan bencana memakai perspektif kemanusiaan. Materi akan dilanjutkan dengan diskusi kelompok.
  • 5 Wikisaster Management: Pengalaman JALIN Merapi Mengelola Informasi Bencana
    Apa jadinya kalau bencana dikelola? Tentu saja akan memperkecil kerugian. Dengan mengelola bencana (alam atau buatan manusia), kerusakan fisik bisa ditekan. Kehilangan nyawa mampu diperkecil jumlahnya. Dan proses pemulihan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
  • 5 Jurnalisme Kebencanaan
    Pewarta maupun awak media meanstream di Indonesia adalah pekerja yang tidak dibentuk atau disiapkan sebagai pewarta di wilayah bencana sehingga yang terjadi adalah atas proses yang tidak direncanakan dan kebanyakan adalah Shock reporting, tidak adanya panduan pewartaan yang telah di konvergensi dengan isu-isu kebencanaan.
  • 5 Membaca Tanda Alam lewat Burung
    Clive Walker, seorang petualang Inggris yang menghabiskan sebagian hidupnya di Bostwana, Afrika, dan berdekatan dengan hewan-hewan liar, percaya kalau mereka punya rasa yang amat tajam. Ia mengatakan, "Wildlife seem to be able to pick up certain phenomenon, especially birds ... there are many reports of birds detecting impending disasters (Satwa liar tampaknya mampu mengambil fenomena tertentu, terutama burung... ada banyak laporan yang mengatakan kalau burung mampu mendeteksi bencana yang akan datang)."
  • 5 Online Media Research: Konten Laris Manis, Bagaimana?
    Membuat konten di media online ataupun media sosial tidaklah sulit. Tetapi tidak semua konten akan dapat menarik minat pembaca/pengakses. Perlu ada pemahaman tentang apa yang dibutuhkan dan/atau diminati pembaca dan bagaimana memenuhinya.
Berita,
  Jumat, 24 Februari 2012 | 22:51 WIB


Keliling Indonesia dalam 40 Menit!

Farid Gaban dan Ahmad Yunus bercerita tentang petualangannya mengelilingi Indonesia, perjalanan itu terekam dalam 40 menit film dokumenter. Mereka merekam seluruh perjalanan ke 80 pulau, hingga menghasilkan 10.000 frame foto dan 70 jam video.

Secara langsung Farid Gaban datang dalam acara diskusi film Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, Jumat malam (24/2) di Laboratorium Komunikasi Sekolah Tinggi Pemberdayaan Masyarakat Desa "APMD", dalam rangkaian Jagongan Media Rakyat (JMR) 2012.

Farid dicecar dengan berbagai pertanyaan seputar perjalanannya, salah satu diantaranya mengenai apa tujuan Farid dan Yunus melakukan Ekspedisi. “Melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda karena setiap daerah mempunyai keunikan dibanding daerah lainnya,” ujar Farid.

Perjalanan itu tidak hanya memotret segala hal-hal indah saja, tapi juga melihat realitas sebenarnya. Farid berpendapat bahwa kebijakan publik seringkali tidak sesuai, karena kebanyakan masyarakat terlalu menyamaratakan kondisi Jawa dengan kondisi di luar Jawa, padahal jauh sekali perbedaannya.

Riset perjalanan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa dilakukan kurang lebih selama dua bulan, menentukan lokasi tujuan, cara mencapai, dan segala hal dipetakan lebih dahulu di awal. Meski tidak dapat dipungkiri lagi apa yang telah dipetakan kurang sesuai dengan apa yang di lapangan.

Farid menggambarkan bahwa kendala-kendala dapat diminimalisir dengan baik karena ada riset dan pemetaan sebelumnya. Hampir keseluruhan perjalan yang dilakukan bertema laut.

“Masa depan Indonesia berada di laut bukan di daratan,” ucap Farid menanggapi beberapa penanya.

Apa yang hendak dicapai?

Mengajak banyak teman untuk mengeksplorasi Indonesia dan menuliskannya di blog, web, ataupun facebook. Itulah misi utama Farid Gaban dan Ahmad Yunus. 


  • dibaca 1250x

Pendukung

  • UII Net PT Global Prima Utama
  • Pengelola Domain .ID

Media Partner

Media Partner: Kedaulatan Rakyat
Media Partner: Koran Tempo

Penyelenggara