Kompleks Kampus STPMD "APMD" Yogyakarta, 23 - 25 Februari 2012
  • 5 "Linimas(s)a"
    Film "Linimas(s)a" menggambarkan kekuatan gerakan sosial offline maupun online yang saling beresonansi, bersinergi dan menguatkan secara signifikan. Diceritakan pula bagaimana pemanfaatan Internet dan media sosial oleh orang biasa untuk melakukan hal yang luar biasa!
  • 5 E-Becak & Blontea: Meraup Rejeki Nyata Lewat Dunia Maya
    Harry adalah tukang becak. Tapi Harry juga pengguna sosial media aktif macam Facebook dan Twitter. Oleh karena kegemarannya dengan online, ia berhasil menjaring pelanggan tetap terutama Belanda, bila mereka sedang berkunjung ke Jogja.
  • 5 ICT for Woman: Memberdayakan atau Memperdaya?
    Sudah mulai banyak program sosialisasi untuk mengenalkan perempuan kepada information & communication technology (ICT). Tetapi sedikit yang ternyata memberikan manfaat apapun kepada perempuan. Kebutuhan perempuan bisa jadi memang unik.
  • 5 Mengembangkan Software untuk Sistem Informasi Desa (SID)
    Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) adalah Free and Open Source Software. Bagaimana saya bisa mempelajari arsitektur sistem dan source code aplikasi SID? Bagaimana tahap-tahap pengembangan aplikasi SID selama ini dilakukan? Apakah saya bisa ikut serta mengembangkan software SID? Dan sejauh mana aplikasi SID akan dikembangkan bersama komunitas teknologi informasi?
  • 5 ICT for Difable
    Kebanyakan pengguna teknologi informasi makin dimanjakan dengan fasilitas yang kian canggih seiring dengan berkembangnya teknologi informasi. Namun bagi kaum difabel, perkembangan teknologi informasi belum bisa mereka nikmati dengan mudah karena keterbatasan yang mereka alami. Karena itu perlu dukungan serius kepada kaum difabel agar mereka bisa ikut merasakan manfaat teknologi informasi.
Liputan,
  Jumat, 24 Februari 2012 | 16:37 WIB


Jebakan Betmen Penjahat Berdasi

Pers mainstream bisa duduk tenang karena memiliki badan hukum dan anggaran dasar yang jelas. Ketika jurnalisnya tersangkut kasus atau masalah, badan hukum tersebut bisa langsung bergerak. Namun, beda masalahnya bagi pewarta komunitas atau media komunitas lain yang tidak memiliki badan hukum. Mereka rentan terkena kriminalisasi yang bersifat kekerasan terhadap pewarta atau kriminalisasi gaya baru.

Demikian yang diutarakan oleh Anggara Suwahyu, praktisi hukum asal Jakarta dalam dialog "Kriminalisasi Pers Gaya Baru" Jumat (23/2) dalam rangkaian Jagongan Media Rakyat (JMR) 2012 di STPMD "APMD".  Masih menurut Anggara, salah satu bentuk kriminalisasi gaya baru tersebut adalah dengan menggunakan instrumen hukum. "Pasal 112 tentang narkotika kerap dipakai untuk melakukan upaya kriminalisasi terhadap orang, khususnya pewarta."

Nurhayati Kahar, pewarta Suarakomunitas.net Sumatera Barat menceritakan pengalamannya dijebak oleh orang menggunakan pasal kepemilikan narkoba. Narasumber yang akrab dipanggil Uni ini pernah dijebak oleh seorang temannya sendiri yang mengakibatkan ia dijebloskan ke dalam penjara. "Waktu itu saya habis menulis kabar soal petinggi Polisi yang melindungi oknum pelaku pemerkosaan. Di tengah jalan, seorang teman saya meminta turun untuk karaoke. Setengah jam kemudian, mobil saya diperiksa oleh polisi yang berdalih mendapat laporan bahwa saya menyimpan narkoba. Saya digelandang ke kantor polisi dan sesaat kemudian mereka menemukan narkoba dalam kantung jaket saya. Selama 48 hari saya aktif di pengadilan. Syukurlah saya dibebaskan setelah kawan-kawan saya bersama LSM lain membuktikan saya tidak bersalah." ungkapnya yang kemudian disambut oleh tepuk tangan peserta.

Ibu dari delapan orang anak dan tiga cucu ini memang kerap mendapatkan kriminalisasi. Hal ini mulai dirasakannya ketika ia memutuskan berhenti menjadi PNS. "Selama 22 tahun saya jadi PNS, saya kerap melihat ketidakadilan dan ketimpangan di rumah sakit tempat saya bekerja. Setelah berhenti saya memutuskan untuk mewartakan semua apa yang saya lihat." katanya. Bentuk kriminalisasi yang didapatkan Uni banyak jenisnya. Sebelum dijebak dengan narkoba misalnya, ia disuap 650 juta rupiah dan sebuah mobil agar tidak lagi mewartakan mengenai kasus tersebut. Akan tetapi, ia menolakanya dengan tegas. "Kalau saya menyebut mereka, yang mencoba menjebak atau menyuap saya  di Sumatera Barat dengaan istilah penjahat berdasi," ujarnya.

Masih menurut Uni, penyuapan dan penjebakan tersebut bisa dikatakan sebagai bentuk tindakan kriminalisasi gaya baru karena menghalangi pewarta dalam mewartakan sebuah kebenaran bagi masyarakat. "Maka daripada itu, berhati-hatilah dan jaga baik-baik barang-barang kita terutama ketika berhadapan dengan polisi," himbaunya.

Dalam dialog ini, kedua narasumber menyoroti pengguna blog, radio komunitas, dan situs jejaring sosial lain yang bisa digunakan masyarakat untuk mewartakan sesuatu. Seperti yang disampaikan Anggara, bahwa pengguna blog dan radio komunitas juga rentan terkena kriminalisasi. "Kalau pengguna tersebut memiliki jaringan yang seluas jaringan online-nya, saya kira mereka bisa melakukan advokasi. Tapi kalau hanya kuat di online, itu yang bakal susah," ujarnya.

Apa yang diutarakan dua narasumber diamini oleh salah seorang peserta asal Cirebon. Dalam sesi tanya jawab, pegiat radio komunitas IFM ini, bercerita mengenai pengalaman mendapat tindakan kriminalitas gaya baru tersebut. "Sewaktu mengurus perizinan kami diperlakukan secara diskriminatif oleh lembaga penyiaran. Mereka berdalih siaran kami mengganggu penerbangan. Kami minta buktinya, mereka tidak bisa memberikan." ungkapnya.

Tindakan kriminalisasi memang lekat dengan seorang pewarta. Tahun 1996 misalnya, pewarta Harian Bernas, Fuad Muhammad Syarifuddin, yang akrab dipanggil Udin meninggal karena dianiaya oleh orang tidak dikenal. Kasusnya juga pernah dibelokkan menjadi kasus hubungan gelap. Hingga kini belum terungkap benar apa yang terjadi sebenarnya dengan Udin.


  • dibaca 1544x

Pendukung

  • UII Net PT Global Prima Utama
  • Pengelola Domain .ID

Media Partner

Media Partner: Kedaulatan Rakyat
Media Partner: Koran Tempo

Penyelenggara