Kompleks Kampus STPMD "APMD" Yogyakarta, 23 - 25 Februari 2012
  • 5 Budaya Bebas
    Buku "Budaya Bebas" yang ditulis oleh Lawrence Lessig ini untuk pertama kalinya diluncurkan ke publik Indonesia. Lawrence menguraikan bahwa di luar kenyataan tentang teknologi baru yang selalu mendorong lahirnya produk hukum baru, kini para pelaku monopoli media justru memanfaatkan ketakutan terhadap teknologi baru ini, terutama internet, untuk membatasi gerak gagasan di ranah publik.
  • 5 "Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa"
    Dua wartawan, satu senior, satu junior, berkeliling ke seantero Indonesia untuk mendokumentasikan kehidupan di 100 pulau dalam 40 gugus kepulauan hanya dengan dua motor Honda Win yang dimodifikasi jadi trail. Butuh waktu selama 8 bulan untuk menuntaskan perjalanan panjang itu (Mei-Desember 2009).
  • 5 Peta Penguasaan Industri Media di Indonesia
    Keluar mulut penguasa, masuk mulut pengusaha! Demikianlah nasib media di Indonesia saat ini. Bagaimana peta penguasaan industri media? Siapa saja penguasa media? Bagaimana cara kerja mereka? Bagaimana pegiat media komunitas menyikapi situasi ini?
  • 5 Menjadi Fasilitator Sistem Informasi Desa (SID)
    Sistem Informasi Desa (SID) adalah platform pengelolaan sumber daya komunitas di tingkat desa. SID membuka peluang bagi komunitas desa untuk mampu mengelola sumber daya secara mandiri. Dengan dukungan teknologi informasi, SID dibangun sebagai sebuah sistem multimedia. Jika desa saya ingin memiliki SID, apa saja yang harus dilakukan? Siapa yang harus berperan untuk membangun dan mengelola SID di desa? Apa saja syarat teknis dan non-teknis yang harus disiapkan oleh desa? Dengan siapa kami harus bekerja sama? Bagaimana SID bisa dikelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan desa?
  • 5 ICT for Woman: Memberdayakan atau Memperdaya?
    Sudah mulai banyak program sosialisasi untuk mengenalkan perempuan kepada information & communication technology (ICT). Tetapi sedikit yang ternyata memberikan manfaat apapun kepada perempuan. Kebutuhan perempuan bisa jadi memang unik.

24 Feb 2012 09:00 - 15:00 WIB : Ruang Kelas 4

Jurnalisme Kebencanaan

BERKAS PENYERTA (2)
  • TOR Jurnalisme Kebencanaan.docdownload file
Pewarta maupun awak media meanstream di Indonesia adalah pekerja yang tidak dibentuk atau disiapkan sebagai pewarta di wilayah bencana sehingga yang terjadi adalah atas proses yang tidak direncanakan dan kebanyakan adalah Shock reporting, tidak adanya panduan pewartaan yang telah di konvergensi dengan isu-isu kebencanaan.

Apabila kita bandingkan dengan jenis pelaporan yang dilakukan oleh pewarta di indonesia dengan Jepang maka yang terjadi adalah bertolak belakang. Di Jepang, dalam keadaan bencana semua media sangat sedikit bahkan tidak ada yang memberitakan informasi kebencanaan dengan penyertaan gambar maupun ilustrasi kesedihan atau pun mengenaskan. Mereka banyak memberitakan informasi yang lebih memompa optimisme dan kebangkitan.

Di Indonesia ketika ada bencana yang terjadi di sebuah wilayah maka kita masih saja menemukan pertanyaan-pertanyaan dari pewarta yang sangat tidak manusiawi, misalnya, Bagaimana perasaan anda ketika kehilangan anggota keluarga yang jadi korban bencana ini?" Atau ilustrasi mayat korban yang di close-up sampai menimbulkan begitu ngerinya bencana tersebut.

Workshop "Jurnalisme Kebencanaan" bertujuan untuk memahamkan peran media dalam meliput bencana serta seluk-beluk apa saja yang boleh dan tidak bagi pewarta saat meliput bencana.
Pengisi Acara
Pito Agustin Rudian

Pito Agustin Rudian


Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta
Satryo Arismunandar

Satryo Arismunandar


Trans Corp.
Ahmad Arif

Ahmad Arif


Kompas

Pendukung

  • UII Net PT Global Prima Utama
  • Pengelola Domain .ID

Media Partner

Media Partner: Kedaulatan Rakyat
Media Partner: Koran Tempo

Penyelenggara