Kompleks Kampus STPMD "APMD" Yogyakarta, 23 - 25 Februari 2012
  • 5 Online Media Research: Konten Laris Manis, Bagaimana?
    Membuat konten di media online ataupun media sosial tidaklah sulit. Tetapi tidak semua konten akan dapat menarik minat pembaca/pengakses. Perlu ada pemahaman tentang apa yang dibutuhkan dan/atau diminati pembaca dan bagaimana memenuhinya.
  • 5 Membaca Tanda Alam lewat Burung
    Clive Walker, seorang petualang Inggris yang menghabiskan sebagian hidupnya di Bostwana, Afrika, dan berdekatan dengan hewan-hewan liar, percaya kalau mereka punya rasa yang amat tajam. Ia mengatakan, "Wildlife seem to be able to pick up certain phenomenon, especially birds ... there are many reports of birds detecting impending disasters (Satwa liar tampaknya mampu mengambil fenomena tertentu, terutama burung... ada banyak laporan yang mengatakan kalau burung mampu mendeteksi bencana yang akan datang)."
  • 5 Jurnalisme Kebencanaan II
    Lanjutan dari lokakarya "Jurnalisme Kebencanaan". Pada hari kedua ini lokakarya akan memusatkan perhatian pada bagaimana sebuah peliputan bencana memakai perspektif kemanusiaan. Materi akan dilanjutkan dengan diskusi kelompok.
  • 5 Ngintip Proses Pengarsipan Indonesian Visual Art Archive (IVAA)
    Sejak 1995, IVAA (mulanya bernama Yayasan Seni Cemeti-YSC) fokus pada usaha pemberdayaan infrastruktur seni rupa. Mereka bekerja untuk menjadi pusat data, riset, dan dokumentasi seni rupa Indonesia, dan juga sebagai lembaga manajemen dan pengembangan infrastruktur seni rupa.
  • 5 Peta Penguasaan Industri Media di Indonesia
    Keluar mulut penguasa, masuk mulut pengusaha! Demikianlah nasib media di Indonesia saat ini. Bagaimana peta penguasaan industri media? Siapa saja penguasa media? Bagaimana cara kerja mereka? Bagaimana pegiat media komunitas menyikapi situasi ini?

24 Feb 2012 19:00 - 21:30 WIB : Ruang Film (Screening)

"Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa"

Dua wartawan, satu senior, satu junior, berkeliling ke seantero Indonesia untuk mendokumentasikan kehidupan di 100 pulau dalam 40 gugus kepulauan hanya dengan dua motor Honda Win yang dimodifikasi jadi trail. Butuh waktu selama 8 bulan untuk menuntaskan perjalanan panjang itu (Mei-Desember 2009).

Farid Gaban, wartawan senior yang telah malang melintang di jurnalistik selama lebih dari 20 tahun di antaranya di Majalah Tempo, harian Editor, dan harian Buana, mendokumentasikan temuan-temuan menariknya selama "Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa" lewat film dan jepretan foto. Sedangkan Ahmad Yunus, wartawan yang lebih junior yang pernah bekerja untuk detik.com, dan sekarang menjadi wartawan lepas ini, menulis catatan perjalanannya yang diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul "Meraba Indonesia".

Film "Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa" karya dua wartawan di atas lantas diproduseri oleh Dhandi Dwi Laksono dan Ahmad Yunus.Singkat kata film ini hendak mendekatkan Indonesia yang hanya teraba di imajinasi lewat media audio-visual yang dapat dipirsai orang banyak.

Setelah pemutaran film, Farid Gaban akan berbagi pengalaman di JMR2012 bagaimana mendokumentasikan kerja-kerja komunitas lewat media audio-visual dan gambar.
Pengisi Acara

Tautan terkait:

Pendukung

  • UII Net PT Global Prima Utama
  • Pengelola Domain .ID

Media Partner

Media Partner: Kedaulatan Rakyat
Media Partner: Koran Tempo

Penyelenggara